Tuesday, June 19, 2012


Penyebab Manusia Mempunyai Harapan

http://abra139210.files.wordpress.com/2011/05/openyourmind.jpg?w=300&h=300 

Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pcmbawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan scbagainya. Seperti halnya orang yang menonton Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah mereka.
Kodrat juga terdapat pada binatang dan tumbuh-tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan perlu makan, berkembang biak dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia ialah kodrat binatang, walau bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaan antara kedua mahluk itu, ialah bahwa manusia memiliki budi dan kehendak. Budi ialah akal, kemampuan untuk memilih. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, sebab bila orang akan memilih, ia harus mengetahui lebih dahulu barang yang dipilihnya. Dcngan budinya manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang
salah, dan dengan kehendaknya manusia dapat memilih. Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bcrsama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan.
Dorongan kebutuhan hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani
Kebutuhan jasmaniah misalnya ; makan, minum, pakaian, rumah. (sandang, pangan,
dan papan), ketenangan, hiburan, dan keberhasilan.
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain.
Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah
maupun kemampuan berpikimya.
Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia
mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan
manusia itu ialah :
a) kelangsungan hidup (survival)
b) keamanan ( safety )
c) hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d) diakui lingkungan (status)
e) perwujudan cita-cita (self actualization)
                                                                                                                   

Artikel
Dengarlah Harapan Mereka
Tembakau Temanggung, salah satu tembakau wahid di Indonesia, belum sepenuhnya mampu mensejahterakan hidup para petaninya. Penyebabnya, sistem tata niaga tembakau yang terjadi saat ini belum sepenuhnya berpihak kepada mereka.

Hindra

Banyak petani telah yang telah bergelut dengan tanaman tembakau selama belasan hingga puluhan tahun. Namun, kehidupan mereka tak kunjung sejahtera.
KOMPAS.com - Kening Wahno, seorang petani tembakau di Bansari, Temanggung, berkerut ketika ditanya sudah berapa lama dirinya bergumul dengan lahan "emas hijau". Yang jelas, sudah belasan tahun, katanya. Diingatnya masa-masa di mana dirinya membantu ayahnya menanam tembakau. Kala itu, Wahno remaja kerap mengintili ayahnya menuju ke sebidang lahan tembakau tak jauh dari rumahnya.
Kendati sudah belasan tahun bertani “emas hijau”, kehidupan Wahno tak banyak berubah. Ketika ditemui di rumahnya yang seluas sekitar 100 meter persegi tersebut, Wahno tengah bersantai. Ditemani alunan musik pop yang berasal dari radio bututnya, Wahno sempat menceritakan kisahnya menjadi petani tembakau.
“Jadi petani tembakau itu gampang-gampang susah,” katanya. Gampang, karena bertani tembakau tak memerlukan kecakapan akademis tertentu. Susah, karena hidup-mati tembakau sangat bergantung pada alam. Jika panas, hasil tembakau akan bagus. Sebaliknya, jika hujan, bukan untung, tapi buntung yang diperoleh.
Selama menggeluti dunia tembakau, Wahno mengaku jarang mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah maupun asosiasi petani. Hal ini ironis mengingat tembakau salah satu sektor usaha yang memutar roda perekonomian di Temanggung. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Temanggung Mukhamdi mengatakan, setiap kali panen tembakau, uang yang beredar di kota tersebut mencapai Rp 1 triliun. Padahal, APBD Temanggung hanya Rp 641 triliun.
“Seharusnya petani tembakau itu diperhatikan. Jika petani tembakau tidak ada, memang pabrik bisa apa,” kata Wahno.
Wajar Wahno berbicara seperti itu. Pasalnya, selama bertani tembakau, Wahno mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah maupun asosiasi petani tembakau.
“Pemerintah tidak pernah kasih penyuluhan atau bantuan biaya,” kata Wahno.
Padahal, dirinya memimpikan adanya bantuan modal. Selama ini, menurut pengakuan Wahno, banyak petani di desanya yang beralih ke juragan ketika membutuhkan modal.
“Bunga pinjaman dari juragan besar sekali. Setiap (pinjaman) Rp 1 juta, pengembaliannya Rp 1,5 juta. Ngawur itu,” kata Wahno.
Prayitno, petani di Tlogomulyo, berharap pemerintah dapat memberikan bantuan modal. Selama ini, kata Prayitno, petani selalu berutang ke tengkulak ketika membutuhkan modal. Di daerahnya, bunga pinjaman dapat mencapai 25 persen per masa tanam. Hal ini dinilai memberatkan. Terlebih, jika hasil panen tembakau tak sebagus yang diharapkan.
Sementara itu, Hudi, petani di Ngadirejo, juga memiliki harapan agar pihak grader atau juragan gudang tembakau tak memberlakukan kebijakan potongan 20 persen dari setiap keranjang tembakau yang dijual ke pabrik.
“Keinginan petani, yang dipotong itu berat keranjangnya saja,” kata Hudi. Berat keranjang tembakau, kata Hudi, maksimal lima kilogram.
Sementara itu, Eno dan Muji, juga petani tembakau di Ngadirejo, berharap agar petani dapat langsung menjual hasil panen tembakaunya ke gudang, tanpa perantara tengkulak atau pengepul.
Selama ini, peran perantara kerap dinilai merugikan petani. Pengepul, bersama grader, dinilai sebagai pihak yang berkuasa menentukan harga, sementara petani tak memiliki daya tawar. “Harga bukan milik petani. Petani tidak memiliki daya tawar,” kata Muji.
Maka itu, petani lebih bersikap pasif soal penentuan harga. “Daripada enggak dibeli. Kalau enggak dibeli, kami mau makan apa?” kata Muji.
Saat ini, orang yang dapat menjual tembakau langsung ke gudang adalah mereka yang memiliki kartu tanda anggota. Apa tidak tertarik mengurus pengajuan KTA? “Ah, susah. Itu ada mafianya, nepotisme. Mereka yang bisa masuk ke gudang adalah orang-orang gudang dan keluarganya,” kata Eno.
Ketika dikonfirmasi soal bantuan, Kepala Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung, Rumantyo mengaku, pihaknya telah rutin menyalurkan bantuan kepada petani, seperti penyuluhan, sosialisasi, bibit, pupuk, dan sebagainya. Rumantyo mengatakan, bantuan biasanya disalurkan melalui kelompok-kelompok tani di daerah masing-masing.
Rumantyo juga mengaku ada mekanisme kontrol atas penyaluran bantuan.
“Kami ikuti perkembangannya,” kata Rumantyo.
Namun, faktanya, bantuan pemerintah ini tak selalu sampai ke petani. Hudi, misalnya, mengatakan, bantuan berupa penyuluhan terakhir yang diterimanya adalah sekitar tiga hingga empat tahun silam.
Banyak petani telah yang telah bergelut dengan tanaman tembakau selama belasan hingga puluhan tahun. Namun, kehidupan mereka tak kunjung sejahtera. Tembakau Temanggung, salah satu tembakau wahid di Indonesia, belum mampu mensejahterakan hidup mereka. Penyebabnya, sistem tata niaga tembakau yang terjadi saat ini belum sepenuhnya berpihak kepada petani.
Sudah saatnya pemerintah lebih mendekatkan diri ke petani dan mencoba mendengar harapan-harapan mereka.
Kesimpulan
Menurut pendapat saya sebuah harapan adalah sesuatu yang pasti setiap orang mempunyainya dan berusaha untuk mendapatkan, namun, hal tersebut bisa tergantung pada kondisi dan sikon pada saat itu. Bisa kita ambil contoh pada artikel ini, seorang pengusaha tembaku yang mempunyai harapan agar produksiny bisa makin melebar dan meluas ke mancanegara, namun, semua harapan itu mungkin hanya sebuah harapan karena melihat kondisi pemerintahan Indonesia yang semakin memburuk karena banyaknya uang rakyat yang diambil hak nya oleh para pihak yang tidak bertanggung jawab. Inilah kondisi yang harus kita telan dan kita terima , kondisi yang tak tau kapan akan berubah, banyak sekali harapan-harapan masyarakat kecil agar mendapatkan kondisi dan kehidupan yang lebih baik lagi.Semua ini tidak akan terlaksana jika tidak didahululi pembenaran jiwa para pejabat itu sendiri, agar Indonesia ini bisa lebih maju dalam semuanya. Maka dari itu perlu kesadaran tinggi bagi pemerintah yang sudah seharusnya melihat ke bawah , masih banyak daerah terpencil yang membutuhkan pendidikan, bantuan kesehatan, ekonomi dan masih banyak lagi. Sudah saatnya pemerintah harus mengubah jiwa mereka agar Indonesia ini menjadi semakin baik dan maju dalam hal apapun tentu nya dengan bantuan kita sebagai masyarakat.